Seorang Nenek di Sragen, Tergerak Hatinya Untuk Mengaji

0
307

LAZISMUJATENG.ORG – Seorang nenek mengenakan kerudung hitam dan jarik berjalan menuju rumah Tuminah, kordinator pengajian PCA (Pimpinan Cabang Aisyiyah) Karangmalang, Sragen. Dengan beralaskan sandal jepit ia ke rumah itu untuk menghadiri pengajiaan yang sudah berjalan rutin setiap tanggal 12. Marinem, sapaan orang-orang disekitarnya kepadanya. Baru tiga bulan ini ia mengikuti kajian rutin di rumah Tuminah yang beralamatkan di Jagan, Kroyo Karangmalang, Sragen.

Marinem masih tergolong awam dalam hal agama. Hidayah datang kepada Merinem. Awalnya melihat teman-temannya menghadiri pengajian, ia jadi ingin ikut-ikutan menghadiri pengajian, alhamdulillah dari ikut-ikutan itu kini hatinya menjadi tergerak menghadiri pengajian secara rutin. “Memang di sekitar sini sebagian simbah-simbah ada yang masih sangat awam, maka dari itu dengan adanya pengajianan ini diharapkan dapat mengajak mereka untuk lebih mengenal Islam,” tutur Tuminah.

Bersama jamaah pengajian yang lain Marinem duduk mengelilingi seorang pria yang mengenakan baju muslim berwarna ungu. Pria itu bernama Suprat, Guru agama Islam SMK Muhammadiyah 1 Sragen sekaligus menantu dari Tuminah. Ia mendapat kesempatan untuk mengisi kajian rutin yang dihadiri 50 jamaah. Pada pengajian itu ia menyampaikan mengenai kematian dan hari kiamat. Para jamaah tampak khusuk mendengar pengajian yang disampaikan Suprat.

Di serambi rumah Tuminah perawat mengenakan seragam putih sedang memeriksa simbah-simbah sepuh. Mereka adalah perawat dari RS Sarila Husada yang memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada simbah-simbah sepuh yang menghadiri pengajian itu termasuk Marinem. Kegiatan itu sudah menjadi program bulanan yang diselenggarakan RS Sarila Husada.

Marinem wanita yang sudah berusia tujuh puluh tahun itu tinggal di Jagan, Kroyo, Karangmalang, Sragen. Perempuan yang sidah berusian 90 tahun ini tinggal bersama salah seorang anaknya, Sumardi. Sebelumnya Marinem seorang penjual emping. Sementara suaminya, Sugiman bekerja sebagai buruh tahu. Sugiman juga pernah bekerja sebagai tukang becak. Kini suaminya sudah meninggal dunia. Ia sudah meninggal sejak 15 tahun yang lalu tepatnya pada tahun 2003. Sekarang Marinem memiliki dua orang anak dan tiga orang cucu. Tidak hanya itu bahkan ia juga sudah memiliki lima orang cicit. Di usia yang sudah tua, ia sudah tidak dapat bekerja lagi. Sehari-harinya ia hanya mengasuh cucu-cucunya.

Usai pengajian, Lazismu Sragen memberikan santunan beras kepada 23 simbah jamaah pengajian termasuk Marinem. Sabtu 12 Mei 2018 Marinem menerima santunan berupa beras dari Tommy Arisaputra, Staf Program Lazismu Sragen. Setelah menerima beras, Marinem langsung memikulnya dan membawanya pulang ke rumah.