Buah Spiritual Pak AR

0
147

Oleh : Maya Robiatul Adawiyah, S.Akun (Manajer Keuangan Lazismu Jawa Tengah)

Lazismujateng.org, Semarang – KH. Abdul Rozaq Fachrudin yang kerap disapa dengan Pak AR, lahir 14 Februari 1916 di Clangap, Purwanggan, Pakulaman Yogyakarta. Sosok yang masih asing bagiku, namun melalui perantara buku  “Pak AR Santri Desa yang Memimpin Muhamadiyah” yang ditulis oleh Muhammad Faried Cahyono dan Abu Tsuban Habibullah aku mulai mengenali Pak AR, sosok  yang berkarisma berangkat dari kejujuran, kesederhanaan dan keikhlasannya.

“Di tengah zaman, dimana para pemimpin  serta para pemegang kekuasaan dan senapan banyak mengkolusikan modal-modal itu untuk perolehan-perolehan finansial, bisakah anda berpikir ada seorang Kiai besar yang profesi ekonominya adalah penjual eceran minyak di kios pinggir jalan? Di tengah era di mana seorang kiai bisa menjual kekiaiannya, seorang pemimpin bisa mengomoditaskan kepemimpinannya, serta seorang penggenggam massa bisa mengecerkan akses-aksesnya. Kata apakah yang sebenarnya bisa kita ucapkan kepada Pak AR yang bisa bersih dari semua itu?

Meresensi dari buku  Pak AR Santri Desa yang Memimpin Muhamadiyah, siapa yang tidak terkesima dengan kesederhanaan Pak AR?! Seorang pemimpin yang tidak berkuasa atas kekuasaannya, bayangkan saja walau ada banyak senapan untuk memperoleh finansial, Pak AR lebih memilih menjual minyak eceran untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Terbukti Pak AR adalah sosok pemimpin arif yang sulit ditemui pada pemimpin masa kini, di era sekarang banyak ditemui pemimpin yang mulai luntur rasa kesederhanaan, keikhlasan apalagi kejujurannya, belum lagi diruwetkan oleh bodohnya materialisme. Fenomena ini bisa dibuktikan dari maraknya kasus korupsi yang merajalela, beberapa oknum menghalalkan segala cara untuk meraih apa yang mereka inginkan. Bahkan diantara pemimpin dan yang dipimpin bisa ditemukan disinformasi, manipulasi, kebohongan, atau kepentingan tersembunyi para pemimpin yang sengaja disembunyikan dari pengetahuan massanya. Jutaan orang sibuk mengembangkan diri menjadi virus-bakteri demi meraih kepentingannya sendiri, demi memuaskan nafsu angkara murka yang secara perlahan tumbuh di seluruh pori-pori.

Terlepas dari kesederhanaan, kejujuran dan keikhlasan Pak AR, hatiku berbisik “bagaimana bisa seorang pemimpin mempunyai karakter yang sedemikian, rasanya mustahil  di zaman sekarang aku mengenal sosok sepertinya. Seperti dalam buku yang diceritakan oleh Muhammad Faried Cahyono dan Abu Tsuban Habibullah itu, darimana Pak AR membangun pondasi spiritualnya?

Pertanyaan itu mulai terjawab, ternyata sejak kecil Pak AR  menimba ilmu agama dari Kiai ke Kiai, beberapa diantaranya ketika pagi hingga siang hari Pak AR mengaji ilmu pada KH. Abdullah Rosad dan KH. Abu Amar, serta kepada Mbah Fachruddin, lalu kesehariannya selepas maghrib sampai pukul 21.00, melanjutkan belajar di Wustha Muhammadiyah Wanapeti, Sewugalur, Kulonprogo. Tak hanya itu Pak AR juga belajar Nahwu Sorof, fikih dan akidah kepada Kiai Sangidoe. Selain menekankan ilmu, Kiai Sangidoe juga menekankan betapa pentingnya kedermawanan, bahwa orang itu seharusnya lumo, pemurah, baik dalam harta benda maupun lainnya, Kiai Sangidoe juga mengajarkan bagi para pemimpin umat, kehidupan dunia harus diabadikan untuk kepentingan orang lain (umat), bukan untuk diri sendiri atau pribadi.

Sepertinya ilmu-ilmu yang diajarkan oleh Kiai Sangidoe dan guru-guru lainnya telah mandarah daging dalam diri Pak AR, bagaimana tidak? Prof. Dr. H. Syafi’i Maarif mantan ketua PP Muhammadiyah saja mengungkapkan bahwa “Pak AR hidup secara sufistik, tidak membutuhkan dunia, hidupnya hanya untuk Allah, Beliau memiliki tingkat humor yang tinggi dan sangat humanis. Beliau juga seorang pembicara yang memukau, santun tapi berisi”

Dari keberhasilan Pak AR menjadi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, ketenangan dalam menghadapi berbagai macam persoalan, serta kematangan dalam berpikir, yang pada akhirnya menjadi teladan dan panutan, bisa jadi semua itu adalah buah dari spiritual Pak AR.

Demikianlah, Dari Pak AR kita belajar tentang arti pentingnya spiritualitas dalam kehidupan. Tentunya kejujuran, kesederhanaan dan keikhlasan apalagi kebeningan hati, tanpa pondasi spiritual yang kuat akan sulit terbangun. Sebab spiritualitas menjadi bagian terpenting dalam kehidupan manusia untuk mendorong seseorang menjadi pribadi yang lebih baik dan menemukan esensi dalam memaknai hidup. Kebermaknaan hidup akan membuat kehidupan menjadi lebih tentram, damai, indah, dan bahagia.

Wakafa billahi syahida.

Singosari, 21 Ramadhan 1444 H