Meneladani Perjalanan Pak AR dalam Menjadi Pemimpin yang Dirindukan

0
109

Muhammad Zakii Rofii, S.T. (Staf IT Support Divisi Keuangan Lazismu Jawa Tengah)

LAZISMUJATENG.ORG, SEMARANG – Bapak KH. Abdul Rozaq Fachruddin atau dikenal sebagai Pak AR merupakan seorang pemimpin besar persyarikatan Muhammadiyah yang dahulu hanyalah seorang guru. Dengan latar belakang tersebut, tentu Beliau memiliki perjalanan yang panjang hingga dipercaya memimpin salah satu persyarikatan terbesar di Indonesia. Bukan satu, dua, atau tiga tahun Beliau memimpin, namun 22 tahun lamanya dari 1968-1990! Lantas apa hal yang menjadi faktor Pak AR begitu dipercaya untuk memimpin selama itu? Berdasarkan cerita yang berasal dari para anggota Muhammadiyah, kerendahan hati, keilmuwan, dan kebijaksanaan Beliau lah yang menjadikan Pak AR begitu dipercaya dan disegani oleh para anggota Muhammadiyah sehingga menjadikan Beliau sebagai pemimpin.

Dengan waktu yang tidak sebentar tersebut, bukanlah harta yang Beliau cari meskipun peluang yang dimiliki sangatlah besar. Pak AR memilih untuk mencari cara terbaik dalam berkhidmat dan mengabdi kepada Indonesia. Cara Beliau memimpin berhasil membawa dunia Islam dapat terus exist di era gempuran Islam semakin dipinggirkan. Bagi Pak AR, dalam mendakwahkan Islam perlu dengan pendekatan yang berbeda. Hal itu karena latar belakang masyarakat pula yang berbeda, sehingga diperlukan adanya adaptasi agar ajaran Islam semakin mudah untuk dipahami oleh umat. Bagi Pak AR, Islam adalah agama yang damai dan penuh rahmat. Dan ber-Islam itu, menurutnya, mudah.

Perjalanan Beliau tidaklah ringan. Dengan keterbatasan pendidikan yang ada di Indonesia saat itu, Beliau menjalani beberapa pendidikan dari sekolah formal dan sekolah agama secara berpindah-pindah. Pada saat itu sekolah formal hanya dapat dinikmati dengan mudah bagi keluarga berada.

Hal itu dikarenakan biaya yang dibutuhkan tidaklah sedikit. Sehingga Pak AR hanya dapat mengenyam pendidikan sekolah formal hingga kelas 3 sekolah dasar. Setelah itu, Beliau melanjutkan pendidikan dengan mengikuti arahan dari sang Ayah, KH. Fachrudin atau lebih dikenal sebagai Mbah Fachrudin. Dengan arahan Ayah-lah, Pak AR belajar dari satu kiai ke kiai lainnya. Beliau belajar dengan berbeda-beda kiai untuk mendalami ilmu sesuai dengan keahlian utama dari sang kiai. Beliau banyak belajar seputar ilmu nahwu sharaf, ilmu Qur’an, ilmu hadist dan tafsir.

Menurut Muhammad Litfi Purnomo AR, salah seorang putra Pak AR, ada banyak kita agama Islam yang menjadi referensi Pak AR. Antara lain Ihya ‘Ulumuddin karya Imam Al Ghozali, Kitab Tauhid karya Imam Al Ghozali, Kitab Hikam, Kiitab Al Marobi, Kitab Arba’in, Tafsir Baidlowi, Tafsir Jallalain, serta kitab-kitab lain yang digunakan para ulama salaf lainnya termasuk kitab-kitab modern seperti karya Muhammad Abduh juga digunakannya. Berasal dari kisah para pengajar disana, Pak AR dikenal sebagai murid yang rajin dan cerdas. Beliau pandai dalam memahami sesuatu penjelasan.

Selain itu, Beliau juga dapat menjelaskan pemahamannya dengan bahasa yang mudah diterima oleh orang lain. Sehingga tidak mengherankan jika Beliau juga merupakan sosok yang pandai bergaul dengan para murid lainnya. Hal yang menarik dalam pendidikan Beliau bersama para kiai, bahwasanya pendidikan yang diampu semuanya tidaklah dipungut biaya. Para murid tidak perlu untuk membayar upah bagi pondok.

Bagi para kiai yang penting adalah mengenyam pendidikan. Sehingga banyak dari para murid yang membawa bekal sendiri atau pulang secara berkala untuk mengambil bekal. Begitu pula bagi para guru disana. Mereka tidaklah dibayar untuk ikut mengajar di pondok. Semua dilakukan murni untuk pengabdian kepada masyarakat. Dengan mengangkat nilai tersebut, menjadikan para murid dan guru menjadi pribadi yang tulus, mandiri, dan inisiatif. Hal ini menjadikan ilmu yang mereka dapatkan dapat berkembang walaupun ilmu tersebut tidaklah seberapa.

Penekanan dalam keprihatinan atau ibarat bertapa di dunia pesantren dahulu dimaksudkan agar santri tidak mengumbar pemuasan nafsu fisik. Karena perilaku topo atau prihatin dengan kesederhanaan sangat potensial menerima pencerahan dari Allah. Menurut Malik Madani, “Santri yang selalu prihatin, sederhana, hati (batin) nya tidak terkotori oleh syahwat duniawi. Sekarang batin orang sangat banyak terkontaminasi oleh syahwat duniawi. Karena itulah, pesantren tradisional zamah dulu banyak menelorkan orang-orang besar atau tokoh hebat.”

Kisah Pak AR dalam memimpin Muhammadiyah tentu memiliki tahapan yang tidak sebentar atau singkat. Setelah lulus dalam mengenyam pendidikan dari berbagai lembaga dan yayasan, Beliau melamar diri sebagai guru tingkat SD di daerah Palembang. Selain berperan sebagai guru, Beliau juga turut serta dalam mengaktifkan kepanduan Hizbul Wathon disana.

Hal tersebut turut mengantarkan kepanduan tersebut dalam berpetualang dengan meng-onthel dari Palembang ke Medan untuk menghadiri Kongres Muhammadiyah pada tahun 1947. Tentu bukanlah cerita yang mengagetkan karena Beliau kerap menjadi ketua kelompok saat remaja. Perjalanan Beliau berlanjut hingga menikah dengan Ibu Siti Qomariyah. Setelah menikah, sang istri masih melanjutkan pendidikan pondok, hingga tiga tahun kemudian diajak Pak AR untuk membersamai di Medan. Setelah menjadi guru beberapa tahun, Pak AR pulang ke Yogyakarta untuk menjadi Guru dan Ketua RT. Beliau menginisiasi pengumpulan zakat dan kurban di daerah Beliau. Masih berlanjut karir Beliau memilih untuk beralih menjadi penghulu disana.

Pada akhir 1949 dimana terjadi pertempuran dengan Belanda, Pak AR berpindah ke kota untuk bekerja sebagai Pegawai Jawatan Agama Yogyakarta. Dikarenakan lokasi Beliau pindah berdekatan dengan para tetua Muhammadiyah, Pak AR turut membantu setiap kegiatan Muhammadiyah seperti mengisi pengajian, memberikan nasihat pernikahan, hingga memamitkan jenazah.

Bagi Beliau para sesepuh tersebut sudah seperti orang tua sendiri. Setelah itu, Pak AR kerap diutus ke desa-desa dan ke luar Yogyakarta untuk membangun daerah tersebut. Salah satu desa yang menjadi perhatian yaitu Desa Kotagede yang dianggap terbelakang saat itu. Pak AR diutus untuk membangun desa tersebut.

Beliau memulai dengan membangun sekolah dan melengkapi perlengkapinya dengan menghimpun dana dari para dermawan pengusaha perak di Kotagede. Kemudian pada tahun 1953, Beliau dilantik sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY sekaligus diminta untuk menjadi Pembantu Anggota PP Muhammadiyah. Kiprah Beliau di skala nasional dimulai saat setelah muktamar Beliau diminta untuk mewakili petinggi PP Muhammadiyah untuk menghadiri Musyawarah Muhammadiyah Propinsi Aceh. Setelah itu Beliau dipercaya untuk mewakili PP Muhammadiyah di berbagai daerah di Indonesia.

Dalam sidang Tanwir Muhammadiyah tahun 1969 di Ponorogo (sidang pimpinan-pimpinan Muhammadiyah seluruh Indonesia), Pak AR kemudian ditetapkan sebagai Ketua PP Muhammadiyah.

Dalam pengakuannya, Pak AR menjelaskan bahwa dirinya memimpin Muhammadiyah hanyalah sekedar menjalankan amanah. Memimpin Muhammadiyah adalah tugas berat karena pertanggungjawaban lebih kepada Allah daripada kepada Muhammadiyah. Tetapi, asal sungguh-sungguh, bersedia bekerja keras, selalu optimis, dan senantiasa mengharap pertolongan Allah, pasti ada pemecahan atas persoalan yang sesulit apapun.