Ngaji Ke Kyai Dahlan 3

0
431

di dua edisi yang lalu kita telah mengaji bersama tentang bagaimana KH. Ahmad Dahlan dalam mengelaborasi Rukun Islam yang kesatu hingga ketiga yang dampaknya mampu mewarnai Islam Indonesia seabad kemudian. Tiba saatnya kita mengaji kiprah Kyai Dahlan dalam mengejawantahkan Rukun Islam yang keempat yakni Puasa.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa kebiasaan umat Islam di Indonesia awal abad keduapuluh ketika menunaikan puasa, mereka melakukan sahur ketika tengah malam. Dan berbuka setelah selesai melakukan sholat tarawih. Bahkan di kalangan anak-anak santri biasa melakukan sahurnya adalah bukanya, dan bukanya adalah sahurnya.

Jadi, umat Islam Indonesia yang bersungguh menunaikan puasa kala itu biasa dalam hari-hari puasanya, makan cuma satu kali yakni waktu tengah malam saja. Mungkin, hal itu dianggap lebih afdhol. Dalam situasi seperti itu Kyai Dahlan mengikhtiari mengkaji puasa sesuai sunah. Diungkaplah bahwa sahur disunahkan diakhirkan waktunya, yakni mendekati waktu subuh. Dan sunah mensegerakan berbuka ketika sudah masuk waktu maghrib.

Bisa dibayangkan, ketika mayoritas umat Islam mempunyai kebiasaan sahur tengah malam dan berbuka setelah selesai sholat tarawih, bahkan sebagian sahur sekaligus buka, kemudian Kyai Dahlan menyampaikan hadits-hadits yang berbeda dengan kebiasaan itu. Tentu berbagai kritikan hadir pada Kyai Dahlan dan para muridnya.

Puasa Kyai Dahlan dan para murid-muridnya saat itu dianggap puasa setengah niat. Tidak kaffah tidak afdhol. Kata-kata mereka kira-kira kurang lebih “nak ra kuat mbok wes rasah poso”. Tapi Kyai Dahlan bukanlah ulama yang pemarah, bukanlah Kyai yang reaktif dan memaki kelompok lain. Ini sungguh ibroh yang luar biasa. Seorang pembaharu, tidaklah harus menunjukkan kesalahan pihak lain walau sungguh jelas menselisihi sunah.

Sebuah perilaku budi pekerti yang mulai langka di abad duasatu ini. Abad ini penuh sesak dengan kajian yang menyatakan diri pembaharu tetapi dengan cara yang sangat vulgar bahkan lewat radio dan tivi demi menunjukkan kesalahan pihak lain. Kyai Dahlan tidak. Kyai Dahlan sungguh menjunjung tinggi akhlak. Beliau mengedepankan dialog dengan siapapun.

Dan hasilnya, bisa kita rasakan saat ini. Walaupun tanpa menjelek-bid’ahkan kelompok lain kala itu, saat ini umat Islam Indonesia ketika menunaikan puasa, sahurnya mendekati subuh dan mensegerakan berbuka ketika mendengar suara adzan maghrib. Satu abad kemudian terbukti, ajaran sunah yang disampaikan Kyai Dahlan yang saat itu ditolak telah diikuti semua umat Islam Indonesia. Baik yang mengaku Muhammadiyah ataupun bukan.
Wallaahu a’lam.

Cantel Wetan, 11 syawal 1438 H
Ikhwanushoffa ( Manajer Area Lazismu Jawa Tengah)