Pak AR dalam Renungan Saya

0
485

Oleh : Mohammad Wildan, S.T. (Staf IT Support Divisi Keuangan Lazismu Jawa Tengah)

LAZISMUJATENG.ORG, SEMARANG – Jujur sebelumnya, saya tidak mengenal Pak AR. Saya lahir di tahun 1994, sementara beliau wafat di tahun 1995. Dan saya tidak bersekolah di pendidikan Muhammadiyah.

Sebenarnya, banyak tokoh Nasional maupun Dunia yang pernah saya baca biografinya tapi saya tidak tahu ada tokoh bernama Pak AR. Beruntungnya di Ramadhan tahun ini, saya dipaksa oleh pimpinan untuk membaca buku biografi Pak AR. Saya jadi ingat potongan syair lagu tahun 90-an yang judulnya “Pahlawan Sudirman” oleh Farid Hardja : “Rasa Bangga diri kudapat mengenalmu walau kisah tuan kudapat dari buku”.

Itulah yang saya rasakan. Bangga bisa mengenal Beliau, bangga dimasa lalu, Indonesia, Umat Islam, khususnya Muhammadiyah, pernah punya pemimpin yang bersahaja dan pantas diteladani.

Lahir dari keluarga berada, putra KH. Fachruddin, seorang naib dan pengusaha batik di tahun 1916. Di masa sebelum kemerdekaan, untuk berhaji, seseorang harus punya effort yang kuat, terutama finansialnya. Mengingat lamanya waktu berhaji selama 3 – 4 bulan.

Meskipun begitu keluarga KH. Fachruddin hidup dan mendidik putra-putrinya dalam kebersahajaan.

Pendidikan formal pak AR tidak tinggi. Berhenti di kelas II MTs, kemudian dilanjutkan belajar ilmu Agama dari Kyai ke Kyai, karena para Kyai waktu itu memiliki spesifikasi keilmuan tersendiri, semisal Kyai tertentu menguasai ilmu Nahwu, sedang Kyai lainnya ilmu Fiqih, begitu juga ilmu Tafsir ataupun ilmu Agama yang lain.

Selepas Maghrib Beliau belajar lagi di Wustha Muhammadiyah. Dan di usia 16 tahun melanjutkan di sekolah guru Darul Ulum Muhammadiyah selama 3 tahun. Dilanjutkan ke Tabligh School Muhammadiyah selama 1 tahun.

Jadi, walau pendidikan formal pak AR tidak tinggi, Beliau memiliki ilmu Agama yang lengkap, ilmu pendidikan dan ilmu dibidang public speaking. Pak AR yang cerdas juga rajin membaca dan suka menulis. Itu semua modal pak AR saat berkiprah di Muhammadiyah sampai menjadi Pimpinan Muhammadiyah.

Waktu selesai pendidikan Tabligh School Muhammadiyah, Pak AR diminta menemani H. Dawam Rozi, anggota PP Muhammadiyah dari Kulonprogo mengajar di Palembang. Enam bulan kemudian, H. Dawam Rozi pulang ke Yogyakarta, sementara pak AR tetap mengajar SD disana, mengajar kepanduan dan mendirikan sekolah Muhammadiyah setingkat SMP.

Selanjutnya, pak AR sering dipindah tugaskan ke beberapa daerah di Pulau Sumatera. Tahun 1944 pak AR pulang ke Yogyakarta dan mengajar di Muallimin.

Di Yogyakarta pak AR aktif di masyarakat. Pernah menjadi ketua RT sampai Kamituo. Tapi Pak AR menolak menjadi Kepala Desa ketika harus bersaing dengan kakak iparnya. Beliau pernah menjadi penghulu. Dan Beliau sangat hormat kepada orang tua dan kakak-kakaknya.

Selepas peristiwa agresi militer Belanda, sekitar tahun 1950, Pak AR pindah ke kota, bekerja sebagai pegawai Jawatan Agama Yogyakarta di Kepatihan. Beliau tinggal di Kauman yang berdekatan dengan para pimpinan Muhammadiyah.

Maka Beliau sering ditugasi untuk berdakwah dari kampung ke kampung di Yogyakarta. Selanjutnya, mewakili Muhammadiyah dakwah dari kota ke kota. Di tahun 1952, Pak AR diangkat menjadi Pimpinan Muhammadiyah Kota Yogyakarta. Tahun 1953 menjadi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY dan anggota PP Muhammadiyah. Nama Pak AR mulai dikenal se-Indonesia.

Akhirnya pak AR memimpin Muhammadiyah selama beberapa periode tanpa pernah mencalonkan diri. Menurut Beliau dan budaya Muhammadiyah, tidak etis mencalonkan diri, terlebih mencari dukungan sana-sini untuk menjadi pemimpin. Hal itu sesuai perintah Rasulullah, untuk tidak memilih orang yang berambisi menjadi pemimpin.

Sebagai pimpinan ormas Islam besar, Pak AR tidak menerima gaji, hanya mendapat ongkos perjalanan. Untuk menafkahi keluarga Pak AR, berjualan bensin eceran di depan rumahnya, dan menyewakan beberapa kamar untuk kos-kosan mahasiswa. Bedakan dengan da’i-da’i kondang sekarang, yang sering muncul di Televisi dan punya channel YouTube pribadi. Tanpa bekerjapun kekayaannya berlimpah. Biasanya mereka punya manager yang mengatur schedule ceramah dan besaran tarifnya. Konon, ada da’i favorit masyarakat Pantura yang daftar tunggu ceramahnya sampai beberapa tahun.

Apabila pak AR berceramah atau menangani urusan organisasi keluar kota, Beliau memilih menginap ditempat teman atau pengurus Muhammadiyah setempat. Hal itu untuk mengakrabkan dan mengetahui keadaan umat yang dipimpinnya.

Beberapa waktu yang lalu, sebelum Ramadhan, sebagai pegawai Lazismu Jateng yang digaji Muhammadiyah. Saya harus pergi ke beberapa kota, dan dianggarkan menginap di hotel. Saya jadi malu dengan pak AR, perbedaan saya dengan pak AR seperti langit dan sumur.

Pak AR mudah ditemui umatnya. Hidupnya sederhana, bahkan dirumahnya tidak ada televisi. Tetapi Beliau selalu menganjurkan sedekah. Uang jajan anaknya diberikan lebih sedikit daripada uang yang dimasukkan untuk infaq masjid.

Sebagai manusia biasa, Pak AR juga pernah punya keinginan duniawi, yaitu ingin punya sepeda Gazelle (sepeda Eropa yang bagus dan mahal dizamannya). Waktu keinginan itu terwujud, pak AR merasa cukup. Beliau juga menolak diberi mobil, waktu memimpin DPA (Dewan Pertimbangan Agung). Bandingkan dengan para pemimpin sekarang. Makin tinggi jabatan, makin banyak harta, makin banyak keinginan duniawi yang terpenuhi, makin banyak lagi nafsu memiliki barang mewah yang tak ada habisnya.

Memimpin Muhammadiyah terlama, 22 tahun. Dari awal Orde Baru, dalam perjalanan kepemimpinannya banyak hal yang terjadi berkaitan dengan eksistensi Muhammadiyah sebagai ormas Islam di Indonesia yang sering berbenturan kepentingan dengan rezim yang berkuasa.

Banyak produk politik diciptakan untuk melanggengkan kekuasaan. Diantaranya partai yang dibatasi, pemilu yang diatur, wakil rakyat dan utusan golongan untuk DPR/MPR yang diseleksi sesuai kehendak penguasa. Yang terberat adalah kewajiban berazaz tunggal yaitu Pancasila bagi semua ormas.

Hal itu merepotkan Muhammadiyah, juga ormas pemuda Islam lainnya seperti HMI dan PII. Umat di beberapa wilayah menolak, jika kedudukan Pancasila lebih tinggi dari Tauhid. Sementara pihak penguasa semakin represif memaksakan kehendaknya. Akibatnya banyak tokoh yang diawasi, dicari dan ditahan karena menolak azaz tunggal karena dianggap melawan pemerintah.

Peran pak AR sangat penting. Beberapa kali diundang ke Jakarta. Kadang Menteri Agama yang ke Yogyakarta. Lobi tetap dilakukan bahkan Muktamar tahun 1981 ditunda sampai 1985.

Ketika RUU azaz tunggal akhirnya disahkan, Muhammadiyah harus bersikap. Dalam Muktamar ke 41 di Solo, Muhammadiyah akhirnya menerima azaz tunggal dalam berpolitik, bernegara dan bermasyarakat. Sementara dalam beragama tetap berazaz Tauhid. Begitupun banyak umat yang keluar dari Muhammadiyah.

Pak AR menjelaskan, Muhammadiyah tetap berazaz Islam, tapi harus menerima azaz tunggal. Ibarat, orang muslim yang hendak sholat Jum’at dengan naik motor, maka harus pakai helm. Helm tersebut tidak mengubah Islam dan niat Sholat Jum’atnya. Begitu sampai, helm dicopot untuk nanti dipakai saat pulangnya. Azaz tunggal itu ibarat helm. Dipakai dan dilepas sesuai fungsinya.

Pak AR juga banyak mendakwahi para pejabat Negara. Beliau menganjurkan para pengurus Muhammadiyah agar menjalin hubungan baik dengan para Umara’. Apabila Umara’ berbuat salah, hendaknya diingatkan dengan cara yang baik.

Sebelumnya, pak AR juga pernah membuka dialog dengan pimpinan Islam yang memutuskan melawan pemerintah, seperti Daud Beureueh dan Kahar Muzakkar walaupun akhirnya tetap berbeda pendapat, tapi saling memahami.

Pak AR tetap peduli pada keberlangsungan negara Indonesia. Terbukti, Beliau pernah menulis surat terbuka di harian Kedaulatan Rakyat 13 Mei 1992 yang isinya, menganjurkan warga PDI dan PPP untuk tidak golput.

Pak AR beberapa kali pernah menyarankan agar Pak Harto mundur dan jangan mencalonkan diri lagi, seperti pak AR yang tidak mau dicalonkan lagi pada Muktamar berikutnya (1990). Tapi pak Harto menolak.

Sebagai kepala keluarga, pak AR sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Semasa anaknya masih kecil, beliau sering mendongeng sebelum tidur. Dongengnya, tentang anak muslim yang orangtuanya tidak mampu menyekolahkan. Karena ingin menimba ilmu, dia datangi sekolah saat pembelajaran dan mengintip dari balik dinding bambu untuk belajar membaca dan berhitung. Dari situ si anak bisa membaca dan berhitung seperti anak yang bersekolah. Intinya pak AR menekankan pentingnya mencari ilmu sesulit apapun cara mendapatkannya.

Pak AR sangat sabar menghadapi anak-anaknya, membiasakan ibadah dan muamalah dengan contoh kongkrit. Mengajarkan pentingnya sedekah dan luas bergaul dengan berbagai kalangan.

Pak AR meninggal di usia 79 tahun, setelah beberapa saat mengalami sakit vertigo, tekanan darah tinggi dan leukemia. Setelah tidak memimpin Muhammadiyah. Pak AR tetap aktif dalam kepengurusan dan membaktikan dirinya untuk Muhammadiyah dan Islam.

Adapun warisan dari pak AR yang perlu dipelihara adalah kesederhanaan, kejujuran dan keikhlasan. Hal yang sangat langka didapati pada pemimpin di masa sekarang.

Wallahu A’lam bi showab.

Mijen, 17 Ramadhan 1444 H / 8 April 2023 M