Pak AR “Santri Desa yang Memimpin Muhammadiyah”

0
101

Oleh : Fitriana Anindhika Suharwanti, A.md. (Staf Divisi Sumber Daya Amil Lazismu Jawa Tengah)

Lazismujateng.org, Semarang – Fauzi AR, salah seorang putranya menceritakan “Manusia itu jangan minder dengan pejabat, pengusaha, orang kaya atau siapa pun. Namun minnderlah terhadap orang alim atau takwa. Beliau mengajarkan kepada anak-anaknya agar memandang seseorang dilihat dari kadar keimanannya. Menurut Pak AR, apabila seseorang minder terhadap pejabat menunjukkan bahwa orang itu ingin meraih jabatan. Kalau seseorang minder terhadap pengusaha atau harta benda, artinya orang itu ya cinta dunia ingin mendapatkannya,” Ujar Fauzi AR

Haji Yatiman Syafi’I, salah seorang pemimpin Muhammadiyah Kotagede, menceritakan ketika Muktamar Muhammdiyah di Surakarta, Pak AR lebih memilih menginap dirumah salah seorang temannya di Kampung Laweyan, dan tidur dilantai. Yatiman Syafi’i, juga pernah diajak Pak AR mengisi pengajian di Tulungagung, Jawa Timur, dimana Pak AR juga memilih menginap di rumah sederhana seorang kawannya, dan tidak bersedia menginap dipenginapan yang sudah disediakan panitia.

Abdul Munir Mulkhan menambahkan, dari dunia politik Pak AR mendapatkan pengalaman, dan kadang dinasihatkan kepada anak-anak muda. “Bahwa melihat orang itu jangan fanatik, agar ketika orang tersebut berubah karena pilihan politik dan karena situasi, tidak kaget atau kecewa,” Ujar Mulkhan.

Menurut Abdul Munir Mulkhan, Pak AR memiliki jiwa besar yang luar biasa. Ketika Pak AR tidak bersedia dicalonkan kembali sebagai Ketua PP Muhammadiyah, tetapi Pak AR masih bersedia masuk menjadi salah satu pengurus.

Mengapa Pak AR mengambil jalan damai dan santun dalam setiap dakwahnya? Menurut Sukriyanto AR, hal itu semata-mata mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW. Pak AR tidak pernah memaksakan sesuatu kepada orang lain, juga tidak merasa benar sendiri.

Kesulitan komunikasi dengan masyarakat soal penerimaan Pancasila akhirnya bisa teratasi dengan mudah, dengan Pak AR hanya bilang : Pancasila itu ibarat helm. Kalau mengendarai kendaraan ke luar ya dipakai agar tidak disemprit polisi. Namun begitu selesai dan pulang ke rumah ya kita lepas lagi. Pancasila kita pakai saat kita berhubungan dengan negara, kalau di Muhammadiyah, tidak.

Penulisan diatas dikutip dari buku Pak AR Santri Desa yang Memimpin Muhammadiyah yang ditulis oleh Mochammad Faried Cahyono dan Abu Tsauban Habibullah. Lebih banyak dari apa yang dikutip diatas bahwa pelajaran yang dapat dipetik dari buku ini sangat luar biasa. Keiklhasan dan ketulusan beliau menjadi takaran motivasi muda-mudi sekarang ini. Petuah Beliau, pertama, dalam mengajarkan minder hanya dengan orang alim menjadi pengingat kepada semua agar terus bersemangat. Tidak perlu merasa diri rendah karena dasar jabatan atau bahkan materi kehartabendaan. Karena hakikatnya, jika menfokuskan dalam capaian jabatan serta harta benda tak lain yang dikejar hanyalah dunia saja.

Selain itu, kesederhananya ditorehkan dalam rangkaian hidup Pak AR. Tidak terlena atas segala fasilitas yang ditawarkan. Beliau sangat menikmati pilihan hidup dalam kesederhanaan bahkan itu suatu hal yang sudah menjadi maklum jika Pak AR menerima. Beliau tetap memilih pilihannya, menikmati dan menebar kesederhaan. Hal tersebut tergambar dalam alenia 2, beliau memilih untuk tidur menginap dirumah seorang temannya dan tidur dilantai, padahal sudah disediakan penginapan oleh panitia. Hal lumrah, jika seorang pimpinan mendapatkan fasilitas istimewa, namun Pak AR tidak menerima dan memilih tidur dilantai.

Tak jarang Pak AR sering membagikan pengalaman kepada muda-mudi, dalam hal apapun itu untuk menghindarkan dari rasa kecewa. Bahwasannya sesorang dapat menghindarkan diri dari kata fanatik. Fanatik memiliki arti menyayangi suatu hal yang sangat berlebihan. Hal itu juga menyebabkan sakit yang berlebihan ketika apa yang kita harapkan tidak sesuai. Demikian itu juga menjadi cerminan bahwa seseorang hanya mengejar kecintaan terhadap duniawi.

Keikhlasannya tak luput dalam hal politik, jiwa besar Pak AR semakin teruji karena pilihan Pak AR menjadi pengurus, padahal beliau merupakan bekas pemangku jabatan Ketua Umum PP Muhammadiyah ditahun sebelum. Santun dalam bertindak juga tergambar dalam diri pak AR bahkan dalam himpitan masalah hingga penundaan Muktamar, namun tetap tenang dalam menghadapi. Kemudian, Berkaitan dengan penerimaan Pancasila dikalangan masyarakat Muhammadiyah kala itu, dapat beliau tangani dengan mudah. Se simple menyampaikan perumpaan “Pancasila itu ibarat helm. Kalua mengendarai kendaraan ke luar ya pakai agar tidak disemprit polisi. Namun begitu selesai dan pulang ke rumah ya kita lepas lagi. Pancasila kita pakai saat kita berhubungan dengan negara, kalau Muhammadiyah, tidak. Kesederhaan Beliau dalam bertindak dan menyelaraskan kesederhaan kepada yang lain sangat meneduhkan. Permasalahan yang dipandang rumit kala itu dapat ditangani beliau dengan ciri khas Pak AR Santri Desa yang Memimpin Muhammadiyah.