Weweh Kang Tanpo Ngulungake

0
123

Khazanah Jawa memberi banyak pengajaran agung. Dari tanah nusantara terlahir banyak tokoh-tokoh hebat pada masanya. Bahkan Jawa meningkat menjadi semacam standar kebaikan pada jamannya. Istilah “wong kok ra njowo” mengandung makna orang kok tidak paham kebaikan. Jawa dalam konteks ini tentu bukan arti sempit “kejawen” tetapi Jawa disini adalah “njowo” yang diistilahkan Hamengku Buwono IX sebagai “ngeslam” atau meng-Islam.

Mataram sebagai kesultanan terakhir di nusantara adalah Mataram Islam, bukan yang lain. Walaupun sarjana kolonial dan hampir semua sarjana barat menyatakan bukan, kita yang umat Islam tentunya punya tesis tersendiri, bukannya menganut sarjana orientalis itu.

Islam mengajarkan, shodaqoh adalah amalan yang luar biasa. Selain secara gamblang amal itu menolong orang lain, bagi yang beramal juga akan mendapatkan sesuatu, yakni makin suci hartanya, diberikan jalan keluar dari segala kesulitan bahkan kegundahan, dan dalam keilmuan Irfani makin dipertajam bahwa shodaqoh yang paling tinggi derajatnya adalah ketika yang diberi shodaqoh tidak tahu bahkan tidak sadar kalau ada orang yang tengah berkorban demi menolong dirinya. Dalam khazanah Jawa hal ini populer dengan istilah “weweh kang tanpo ngulungake” yang artinya “memberi tanpa mengulurkan –tangan-“. Maka orang yang mendapat shodaqoh akan terbebas dari beban rasa tidak enak ataupun beban rasa hutang budi.

Pada bulan Ramadlon secara sadar kita melakukan puasa. Puasa yang dilakukan dengan “iman” dan “ihtisab”, dengan hanya mengharap keridloan Alloh dan benar-benar menghitung jangan ada penyelewengan dan amaliahnya dijanjikan akan bersih dosanya. Puasa adalah syariat tiap agama-agama samawi, tetapi agama-agama selain Islam tinggal para pemimpin agamanya saja yang mengamalkannya. Kini hanya Islam yang ulama juga umatnya masih taat menjalankannya.

Puasa yang dilakukan secara sadar sama artinya telah melakukan derajat shodaqoh yang paling tinggi yakni “weweh kang tanpo ngulungake”. Karena bila ratusan juta manusia di bumi ini secara sadar tidak mengeruk makanan dan minuman selama sebulan penuh, maka bisa dibayangkan berapa sumber daya alam yang akan awet, sedemikian sehingga akan makin panjang usia bumi ini bisa dinikmati anak cucu manusia. Insya Alloh.

Cantel Wetan, 18 Rajab 1437 H

Ikhwanushoffa