Siapkah Kita Menghadapi Bencana ?

0
146

LAZISMUJATENG.ORG – Datang tak di undang tanpa rencana dan tiba-tiba, begitulah sifat umum yang mudah di kenali pada setiap bencana yang terjadi. Bencana memang tidak bisa di tolak kehadirannya, namun manusia di beri kemampuan untuk memahami dan menganalisa setiap kejadian agar tidak membawa dampak yang lebih buruk, dari kehadiran bencana.
Di kampung Dondong, tepatnya di RT 01,02 dan 03 RW 06 kelurahan Wonosari Ngaliyan Kota Semarang, sudah terbiasa menjadi langganan banjir. Karena letak geografis perkampungan yang berada tepat di dataran rendah yang di kelilingi oleh perbukitan. Di tengahnya mengalir sebuah sungai yang berasal dari perbukitan Beringin, dan sungainya terkenal dengan  nama sungai Beringin.
Panjang sungai dari hulu sampai ke hilir kurang lebih sepanjang 20 km, tidak terlalu panjang jika di bandingkan dengan sungai lain di Jawa pada umumnya.
Namun yang terjadi panjang sungai tidak berbanding lurus dengan dahsyatnya dampak yang di timbulkan. Tercatat beberapa kali terjadi banjir besar, tahun 1992, 2000, 2002, dan 2010. Yang terakhir tercatat sebagai banjir terbesar yang mampu merendam rumah sampai ke atap, menghanyutkan mobil yang sedang melewati jalan raya dan mengakibatkan korban jiwa sebanyak 4 orang.
Pada hari Senin, 5 Februari 2018 kemarin, debit air di permukaan sungai Beringin di wilayah kampung Dondong sudah mencapai batas maksimal tanggul sungai, akibatnya sebagian air menyusup melalui aliran got dan memasuki perkampungan. Belum besar memang, baru sebatas betis orang dewasa.
Kejadian tersebut bukan hal yang sepele, bagi warga kampung Dondong hal ini berarti potensi ancaman kampung halaman tempat tinggal, bahkan ancaman terhadap jiwa mereka, terutama bagi lansia dan anak-anak yang rentan terhadap kondisi ekstrim.
Warga kampung itu sudah sadar akan potensi ancaman tersebut, persiapan sudah di lakukan, Aliran air sudah di tutup menggunakan karung pasir untuk memperlambat aliran air masuk perkampungan. Tali tambang sebesar ibu jari telah di bentangkan, di tambatkan dengan kuat di titik titik tertentu yang sudah di persiapkan. Tambang di pasang di setiap gang menuju ke dataran yang lebih tinggi sebagai jalan evakuasi apabila terjadi banjir yang lebih besar.
Prosedur evakuasi di jalankan, tempat berkumpul sementara dalam evakuasi sudah di tentukan, koordinator setiap gang sudah di bentuk, peralatan sudah di siapkan, jalur evakuasi sudah di tentukan. Semua kesiapan ini di tujukan untuk antisipasi kemungkinan terburuk apabila banjir melanda perkampungan mereka.
Dari manakah kemampuan warga mempersiapkan ini semua ?  Setelah peristiwa banjir tahun 2010 warga Dondong di bekali pelatihan kesiagaan bencana oleh BPBD bekerjasama dengan LSM Bentari dan Mercy. Selain pelatihan juga bantuan berupa perlengkapan evakuasi, peralatan dapur umum, dan bangunan jalan evakuasi menuju ke bukit yang lebih tinggi di sebelah barat.
Pemerintah melalui aparat kelurahan telah membentuk kegiatan masyarakat yaitu KSB (Kelompok Siaga Bencana) yang di dukung dengan KTB (Kelurahan Tanggap Bencana) dengan kegiatan yang rutin di lakukan oleh masyarakat khususnya kampung Dondong, agar menumbuhkan kesadaran dan kesiapan menghadapi bencana banjir. Demikian di ceritakan oleh anggota KSB, Eko Musabaq saat menerima kunjungan Lazismu di lokasi perkampungan warga Dondong, Senin malam.
Bagaimana dengan kesiapan menghadapi bencana di tempat lain ? Semoga semua bisa memahami karakteristik kemungkinan bencana di lingkungan masing-masing dan mempersiapkan sesuai kebutuhan. Yang lebih penting adalah menumbuhkan rasa empati dan saling berbagi untuk menghadapi segala kemungkinan bencana yang terjadi. Lazismu mempersiapkannya melalui rekening donasi di sini : – Bank Syariah Mandiri 777 888 1785  infaq & sedekah- BTN Syariah 714 205 6983  infaq & sedekah (cak San)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here