KAMPUNG DONDONG KOTA SEMARANG TERENDAM BANJIR

0
123

LAZISMUJATENG.ORG – Ada suasana sedih, ketika pertama memasuki lingkungan kampung Dondong, Wonosari. Ngaliyan, kota Semarang yang semalam di rendam banjir. Jalan penuh lumpur, genangan air kotor, perabotan yang porak poranda, onggokan sampah yang menumpuk di sisi jalan, sungguh sebuah pemandangan yang menyedihkan. Pagi ini Sabtu, (10/2/2018) saya sempatkan untuk mengunjungi kampung Dondong, setelah semalam saya mendapat kabar kampung ini terendam banjir.

Siang kemarin cuaca cerah udarapun terasa panas, meski tidak sepanas di musim kemarau. Kecerahan pun tidak mampu bertahan, ketika matahari condong ke barat pelahan awan berkumpul menyatu semakin tebal menjadi mendung. Sekitar pukul 15.00 hujan mulai turun pelahan, meski tidak di sertai petir hujan makin lama lakin deras menjadikan orang enggan keluar rumah. Begitupun kebanyakan warga kampung Dondong.

 

Kecuali beberapa orang yang bertugas mengontrol ketinggian debit air di sungai Beringin di sebelah timur kampung. Jalan air buangan yang berasal dari kampung sudah di tutup dengan karung pasir, agar air sungai tidak naik ke perkampungan. Ketinggian air sebelum waktu maghrib masih sekitar 3 meter, warga pun masih tenang karena masih jauh dari batas maksimal 4 meter. Namun ketenangan tidak bertahan lama ketika volume air naik mendekati batas maksimaldan terus bergerak dengan kecepatan yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Petugas segera membunyikan kentongan tanda bahaya, semua koordinator di masing masing gangbergerak sigap mengkoordinir warga mengungsi ke tempat yang telah di tentukan. Kebanyakan warga menjadi panik, berusaha mengamanakan harta benda mereka di dalam rumah. Tanpa di sadari air di luar sudah menggenang cukup tinggi dan perlahan mulai masuk rumah.

Dalam suasana sedih, khawatir, bercampur lelah, terdengar jeritan minta tolong dari dalam rumah, ternyata masih ada dua keluarga yang terjebak di dalam rumahnya. Petugas penyelamat dari KSB (Kelompok Siaga Bencana) segera bertindak, namun jalan evakuasidari rumah korban sudah tergenang air dengan ketinggian lebih dari satu meter dengan arus yang deras. Hal ini sangat membahayakan.

Harus di gunakan alternatif penyelamatan yang lebih baik, segera saat itu juga di putuskan menggunakan plan B, evakuasi korban melalui atap rumah. Maka di gunakan tangga guna menghubungkan atap itu ke bangunan yang lebih tinggi di sebelahnya, dan tangga lain sebagai penghubung dua rumah yang berdampingan. Seorang petugas menuruni tangga dan membawa tali pengaman, membuka genteng membuat jalan keluar korban yang terjebak. Suasana sungguh dramatis ketika 5 orang korban di jemput satu per satu memanjat, keluar dari genteng, berjalan di atap meniti tangga di bantu pegangan seutas tali, sementara di bawah ada banjir dengan arus yang cukup deras. Atas izin Allah dua keluargakorban berhasil di selamatkan.

Di sudut lain, ada beberapa rumah warga yang retak, ada yang pintunya hanyut, ada yang jendela hilang, ada pula yang dindingnya ambrol. Namun semua masih bersyukur tiak ada korban jiwa dalam musibah ini.

Rumah saya semalam penuh mas, jadi tempat pengungsian warga. Saya bertugas menjaga dari segala kemungkinan, sekarang tinggal ngantuknya, demikian di sampaikan oleh salah satu anggota KSB, Eko Musabaq.

Apakah dengan peristiwa seperti ini mampu memompa kembali semangat kebersamaan, menghadirkan kepedulian kita terhadap sesama, mengurangi ego dan kepentingan atas nama kemanusiaan. (cak San)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here